Fransiskus Assisi – Seorang Guru ‘Excellent’

Br. Petrus, MTB


Judul tersebut tidak mengherankan akan bisa menimbulkan kebingungan. Bertolak pada latar belakang pendidikan dan keterpelajaran, bagaimana mungkin sosok Fransiskus disebut seorang guru ‘excellent’? Jacobus de Vitri –penggemar berat Fransiskus, menyebutkan bahwa Fransiskus berpendidikan minim dan buta huruf. Ia hanya mengenyam pendidikan dasar di sekolah paroki –San Georgio– dan penguasaan bahasa Latinnya tidak lengkap. Masseo –pengikut setia Fransiskus– menyebut dalam Fioreti, bahwa dia itu tidak pintar. Lebih menyedihkan lagi para perampok membentak Fransiskus dengan kata kasar ‘bangsat’ (1C 16). Fransiskus menerima semuanya itu. Dan ia sendiri mengakui bahwa dirinya ‘tidak terpelajar dan bodoh’ignorans sum et idiota (SurOrd).

Dilihat dari tingkat pendidikan dan keterpelajaran memang Fransiskus dianggap rendah, namun di sisi lain ada banyak hal yang mengagumkan pada dirinya. Dalam ‘Kisah Tiga Sahabat’ disebutkan bahwa Fransiskus beralap santun dalam tata cara dan tutur kata serta bermurah hati kepada setiap orang; lebih-lebih kepada orang miskin. Oleh GK Chesterton (novelis Inggris 1874) Fransiskus disebut sebagai orang yang humanis dan humoris. Dalam kehidupannya, Fransiskus tampil sebagai seorang pribadi yang riang dan jenaka; dan terbuka kepada setiap orang –tanpa sekat. Tidak mustahil banyak orang tertarik kepadanya. Sifat humanis dan humoris mengungkapkan semangat persaudaraan dan kegembiraan –jiwa cinta kasih dan jiwa sukacita. Dengan kedua sikap tersebut Fransiskus mempraktikkan dan mengajarkan Injil kepada orang. Dan hasilnya luar biasa mengagumkan, … Engkau tidak ganteng, tidak pintar dan bukan bangsawan; tetapi mengapa seluruh dunia mengikuti engkau, melihat engkau, mendengarkan engkau dan menaati engkau? –kata Maseo. 

Guru Excellent

Santo Bonaventura –minister jendral OFM ketujuh dan Uskup Albano– pada tanggal 4 Oktober 1255 memberi khotbah pagi tentang St. Fransiskus di Universitas Paris, dengan judul ‘Belajarlah dari padaKu’ … (Mt.11). Dari judul tersebut Bonaventura menguraikan hidup Fransiskus sebagai true disciple – excellent teacher karena itu ia pantas berkata seperti tersebut di atas (FAED hal. 508). Momen penting hidup Fransiskus ditandai dengan hidup sebagai murid yang menghayati pertobatan Injili dan anugerah stigmata. Menurut Bonaventura, hal ini menjadikan Fransiskus menyerupai Yesus –Tuhannya (alter christus); karena itu Bonaventura pantas menyebut Fransiskus seorang guru excellentluar biasa.

Sebagai alasan, Santo Bonaventura menye­butkan bahwa apa yang diajarkan oleh Fransiskus merupakan segala sesuatu yang ia pelajari sepenuh-penuhnya karena diyakini sebagai suatu kebenaran, sehingga ia tidak ragu … Inilah yang kucari, inilah yang ingin lakukan seluruh hidupku (IC 22). Yang kedua, bahwa Fransiskus mengajarkan sesuatu yang ia pelajari dengan sungguh-sungguh, secara tulus dan tanpa kepura-puraan. Dan yang ketiga, apa yang diajarkan oleh Fransiskus merupakan sesuatu yang dihayati dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari; ajaran yang hidup.

Dari khotbah Bonaventura dapat disim­pul­kan bahwa kegiatan mendidik diper­lukan adanya aturan yang benar –tidak mem­bingungkan– yang dapat digunakan sebagai arahan. Aturan yang benar akan ditepati secara tulus dalam hidup konkret sehingga dapat dijadikan sebagai teladan. Pada akhirnya aturan benar dan teladan yang meyakinkan, seorang pendidik akan dipandang sebagai pembawa ajaran yang memberikan pencerahan bagi pengikutnya (LM II). Dengan demikian pantaslah Fransiskus disebut sebagai seorang guru dan pelaku – teacher and actor (Michael Robson).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares