Fransiskus Assisi – Seorang Guru ‘Excellent’

Vox Dei 

Dalam rangka menghayati Injil suci, Fransis­kus merasa tidak ada seorangpun yang menjelaskan dan menunjukkan apa yang harus dibuat, tetapi Yang Mahatinggi sendiri mewahyukan apa yang harus dibuat (Wasiat). Fransiskus merasakan Allah sangat berperan dalam hidupnya. Sebab itu ia perlu terus menerus membangun kesediaan dan kemauan untuk mendengarkan suaraNya –vox Dei. Menurut para hagioraf, Allah memperdengarkan suara-Nya kepada Fran­siskus lewat mimpi dan penampakan; dan yang penting baginya ialah maksud-kehendak Allah baginya. Salah satu pengalaman akan Allah yang sungguh menentukan arah hidup Fransiskus, yakni mendengar suara dari salib di gereja San Damiano … Perbaikilah rumahKu bobrok seluruhnya (LM II)

Suara salib itu menggerakkan Fransiskus untuk berbuat memperbaiki gereja San Damiano yang memang gedungnya sudah rusak. Setelah itu Fransiskus memperbaik dua buah gereja yang tampak rusak. Perbaikan yang dilakukan Fransiskus memang bertolak pada kondisi fisik –gedung gereja dan setempat-lokal, tetapi yang dimaksud oleh Yesus meliputi rupanya gereja universal. Bisa dibandingkan mimpi paus Innocentius ketika melihat gereja Basilik Lateran hampir roboh dan disangga oleh seorang miskin. Perbaikan gereja waktu itu masih dalam taraf fisik-gedung. Akan tetapi dengan cara hidupnya yang menarik banyak orang, Fransiskus tidak lagi menyangkut perbaikan gedung gereja, tetapi hidup umat.

Paul Sabatier (domine dari Prancis) menyebutkan Fransiskus adalah reformis gereja bukan Luther. Dan GK Chesterton usaha Fransiskus memperbaiki gereja membuat orang Kristen semakin Kristiani. Suara Salib membuat Fransiskus dianggap sebagai kebangkitan kembali sikap apostolik gereja. Para saudara-saudara pertama menetapkan bahwa memperbaiki gereja merupakan pelayanan utama mereka. 

Vox Populi

‘Mati aku… Mati aku‘, demikianlah suara seorang saudara yang lapar mengejutkan Fransiskus ketika sedang tidur. Secara spon­tan Fransiskus membangunkan saudara-saudara lain untuk makan bersama; dan ia sendiri yang memulainya. Katanya … belas kasih adalah contoh yang lebih baik daripada soal makanan (IIC22). Pada kesempatan lain, dalam perjalanan ke Cortone, Fransiskus dikeja-kejar oleh seorang ibu yang berteriak mohon berkatnya. Tergerak oleh belas kasihan Fransiskus berhenti dan mendengarkan keluhan ibu tersebut; bahwa ia mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan tertekan oleh suaminya karena tidak boleh melakukan pelayanan kepada Allah. Fransiskus memberkati dan mendoakan ibu tersebut beserta suaminya. Ketika ibu tersebut tiba di rumahnya terjadilah mukjizat bahwa suaminya berubah total dan mengikuti keinginan ibu tersebut. Selanjutnya diceritakan bawa keduanya hidup saleh sampai mati (LP 69). 

Sangat tragis ketika Fransiskus terbaring sakit, dengan sedih sekali ia mendengar bahwa Uskup Assisi bertikai dengan wali­kota Assisi. Masing-masing bersikeras memper­tahankan kekuasaannya, sehingga mereka saling berebut. Lebih menyedihkan lagi Fran­siskus melihat tidak ada saudara yang berusaha untuk mendamaikannya. Disertai doa-doa, Fransiskus mengutus saudaranya untuk mendamaikan kedua pejabat tersebut. Dan upaya Fransiskus berhasil, Uskup dan Walikota berpelukan sambil mengakui kesalahannya dan hidup berdamai. Penduduk Assisi gembira dan semakin besar rasa hormat­­nya kepada Fransiskus dan mereka berkata bahwa Tuhan menaungi umatnya dan telah melepaskan batu sandungan. 

Kemauan untuk mendengarkan orang lain dan memberi perhatian bagi Fransiksus bukanlah suatu sensasi, dan juga bukan karena sifat humanis semata; melaikan buah dari pertobatannya dan ketekunannya dalam mendengar suara Allah. Dengan demikian, dalam setiap kesempatan seolah-olah muncul jawaban Fransiskus, Lord what do you want me to do?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares