Fransiskus Assisi – Seorang Guru ‘Excellent’

Dalam rapat umum region (RUR) MTB 1978 telah disebutkan semangat bruder MTB, antara lain beriman, peka, dan persaudaraan. Hal itu akan tetap menjadi kata-kata kosong bila tidak dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari; semangat semadi dan berdoa merupakan kesempatan untuk mendengarkan suara Allah; dan terbuka bagi orang lain merupakan sikap mendengarkan suara orang-orang di dekat kita. Hal itu merupakan kesempatan baik untuk mengetahui kehendak Allah dan semakin peka akan kesan-koreksi orang di sekitar. Dengan demikian lewat karya pendidikan kita berupaya meneruskan cita-cita saudara-saudara misionaris –menyebarkan pengetahuan dan menebarkan iman.

Santo Antonius dari Padua mem­bangkitkan kesadaran umat; terutama anak-anak terhadap sakramen pengampunan dengan membuat daftar binatang buas sebagai simbol kedosaan. Mereka diajak untuk menunjuk sifat-sifat binatang buas yang sesuai dengan dosa-dosa yang dilakukan. Cara ini rupanya sangat membantu mereka (anak-anak) untuk tetap rajin menerima sakramen pengampunan. Semangat JPIC ungkapan dari vox creaturae kiranya tidak sekedar berupa wacana atau bahan untuk literasi, tetapi memang dinyatakan-ada wujudnya. Usaha menciptakan tata lingkungan yang indah, asri, sejuk, dll. dalam karya pendidikan dapat dipandang selain sebagai sarana keindahan dan juga membangun daya imajinasi dan kreativitas anak.

Penutup

Hal-hal yang disebutkan di atas dapat mem­bantu kita untuk tetap menyadari keberadaan kita sebagai pendidik berjiwa Fransiskan. Jiwa tersebut secara singkat dapat dilihat juga pada kata PADUA. Karya pendidikan merupakan usaha membangun PERSON (pribadi), kegiatan mendidik mengajak anak dengan ceria untuk ACTIVE (aktif), karya pendidikan perlu disadari sebagai karya pembaktian diri –DEDICATION (dedikasi), masa pendidikan merupakan saat awal anak menyadari akan UNIVERSE-SAL (jagad raya-semesta) dan kegiatan mendidik merupakan usaha bersama orang lain sebagai ASSOCIATION (persekutuan-persaudaraan). Lebih lanjut Santo Antonius mengatakan: 

PERBUATAN BERSUARA LEBIH KERAS DARIPADA KATA-KATA, HENDAKNYA KATA-KATAMU MENGAJAR DAN PERBUATANMU BERBICARA. 

(Actions speak louder than words, let your words teach and your actions speak).


*Artikel ini merupakan ‘sajian utama’ dalam Majalah Pratikami edisi XL tahun 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares