Merawat Harmoni di Tengah Covid-19

Kebun karet (Buletin San Damiano edisi ke-2 hal. 7) berdampingan dengan lahan sayur JPIC-Bruder MTB di lahan pertanian Bori Kuala Dua, Kec. Kembayan, Kab. Sanggau, Kalimantan Barat.

Oleh Br. Johanes de Deo, MTB*

Peladang bukan penjahat. Pernyataan ini muncul saat kebakaran hutan marak terjadi di Kabupaten Sanggau dan Sintang, Kalimantan Barat. Peladang hanya membuka lahan (hutan) untuk berladang. Namun ketika asap melanda Kalimantan Barat dan sekitarnya, peladang menjadi kambing hitamnya. Bahkan mereka dianggap biang keladi asap kabut, sehingga “layak” mendekam dalam penjara. Singkat kata, cara bertani dengan membakar lahan menjadi masalah dalam hidup bersama. Meskipun kita tahu bahwa dari tahun ke tahun, kabut asap selalu menyelimuti Kalimantan Barat. Tidak ada solusi yang tepat selain menyudutkan para peladang sebagai produsen asap. Padahal, peladang hanyalah meneruskan warisan leluhur dalam cara bercocok tanam untuk kelangsungan hidupnya. Sebagai rasa empati sekaligus keberpihakan pada tradisi leluhur, JPIC-Bruder MTB pun ikut berladang di area pertanian Komunitas Kuala Dua, Kembayan, Sanggau, Kalimantan Barat.

Leluhur tanah ini telah mewariskan relasi yang harmonis antarseluruh ciptaan di muka bumi. Setiap langkah, kami meletakkan pada keyakinan penyelenggaraan Sang Pencipta. Setiap langkah kami mengerjakan sesuatu terkait dengan kehidupan selalu diselaraskan dengan tanda-simbol dari bahasa alam. Tidak mengherankan kalau tua-tua empat puluhan tahun silam merasa peka dengan tanda alam, suara tanda keselamatan; saat itu alam masih utuh.

Saat kami mau memulai sebuah pekerjaan berladang sudah pasti diawali dengan ritual permisi, damai-damai dengan alam, dan berdoa mohon perlindungan Sang Pencipta. Setelah menuai buah pekerjaan, kami mengakhiri dengan persembahan syukur-sukacita dan saling berbagi. Ritual-ritual seperti ini sangat sakral. Maka, kami harus bangkit melestarikan alam sakral yang menjadi tanda dan bahasa lidah keselamatan Allah Raja semesta alam.

Kami melihat dan membaca berita-berita tentang wabah Virus Corona baru (Covid-19). Ia datang membawa duka, bencana dan ketakutan bagi masyarakat di kampung-kampung. Pemerintah, pemimpin gereja, tokoh masyarakat menghimbau agar masyarakat tetap waspada terhadap Covid-19. Setelah mendengarkan himbauan, masyarakat adat Dayak Kalimantan dengan kearifan lokalnya serentak melalukan ritual tolak bala warisan leluhur yang tetap terpelihara dalam menghadapi situasi sulit. Saat itu manusia Dayak masih terbukti sangat menjunjung tinggi adat budayanya dalam merawat harmoni dengan alam semesta. Manusia Dayak masuk ke dalam alam spiritual leluhur, menyatu dalam doa tua bersama seluruh alam semesta. Kami taat menyepi, menarik diri dari rutinitas dan keramaian, masuk ke dalam alam kepasrahan dalam perlindungan Tompo’-Jubata-Allahtala

Terima kasih kepada masyarakat adat Dayak Kalimantan yang berjalan dalam ketaatan adat budaya, mendengarkan bahasa alam suara Tompo’-Jubata-Allahtala. Pastikan doa -pomang- sampi kita didengar-Nya. Tanah air kita selamat dan aman. Terima kasih Allah Raja semesta alam Allah kami dan Allah leluhur kami.

Nama Besar Peladang Tradisional Tanah Leluhur Tertutup Asap

Petani peladang tradisional menggantungkan keberlangsungan pangannya pada hasil tanah warisan leluhur. Lahan dikelola, dipersiapkan memakai tata cara warisan leluhur, mulai dari pembukaan masa menebas sampai pada panen dan syukur atas hasil panen, semua dialaskan pada keyakinan akan Sang Pencipta. Kami mendengarkan dan melihat tanda keselamatan dari Sang Pemberi hidup melalui tanda alam, seperti suara burung tertentu dan peristiwa alam setempat yang tidak biasa-tak terduga. Selanjutnya, tanda itu disertai dengan ritual doa hubungan kehidupan manusia dengan leluhur, alam dan Tuhan secara utuh. Dengan perlakuan seperti ini, kami merawat keseimbangan alam dan relasi harmoni antara manusia dengan Tuhan, leluhur dan alam semesta. Dengan demikian, semuanya itu diletakkan dan beralaskan nuansa religi, soal hasil ladang ini pemberian Allah yang harus disyukuri. Hasil ladang juga menjadi tanda keselamatan sesuai dengan kerja dan langkah laku manusia sendiri.

Kearifan lokal (berladang) itu kini perlahan-lahan terdesak oleh kapitalis dunia industri yang membuainya dengan nominal uang. Pemburu uang terus menginvasi, mengabaikan nilai hidup harmoni dan keseimbangan alam semesta. Selanjutnya, masyarakat kampung, generasi baru kurang menghargai, perlahan terarah meninggalkan pekerjaan sebagai petani-peladang, ketahanan pangan terintimidasi; pangan harian tergantung dari kran para importir.

Ah, terlalu panjang cerita ini…  atas dasar refleksi pengalaman di atas, JPIC Bruder MTB tergerak hati untuk mengajak masyarakat kampung mempertahankan nilai luhur tradisi leluhur masyarakat Dayak setempat, tempat dimana mereka berkarya dengan membuat percontohan nyata. Lahan kecil di tengah kebun karet, kami kelola secara maksimal untuk ketahanan pangan keluarga. Mudah-mudahan langkah kecil ini menggungah dan mendorong masyarakat kampung tetap menjaga dan mempertahankan nilai tradisi leluhur untuk mencari makan. Bahkan kami mendorong mereka untuk tetap menjaga ketahanan pangan sesuai dengan kearifan lokal. 

*Br. John de Deo, MTB adalah Komisioner JPIC-Bruder MTB bidang budaya. Saat ini ia tengah mengembangkan pertanian berbasis kebudayaan bersama Masyarakat Adat Dayak Kalimantan di Komunitas Kuala Dua, Kecamatan Kembayan, Kab. Sanggau, Kalimantan Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares