Pertanian Terpadu dan Berkelanjutan: Pilihan Pasca Pandemi Covid-19

Stand "Gerakan Nurani Ekologi" JPIC-Bruder MTB berpartisipasi dalam Pencanangan 100 tahun Bruder MTB berkarya di Borneo, Indonesia, Singkawang - Februari 2020.

Oleh Br. Gerardus Weruin, MTB*

Dalam suatu kunjungan ke pertanian sayur di Kabanjahe, Sumatera Utara, para petani di sana berbagi pengalamannya kepada kami. Mereka merasa bahwa menjadi petani di sana terasa begitu susah. Petani sayur sangat bergantung pada pupuk kimia, pestisida, dan bibit unggul. Namun demikian hasil yang mereka dapatkan pun tidak seberapa. Berbagai jenis hasil panen seperti sawi, kol, tomat, kentang, wortel, terung mereka bawa ke pasar dan sebagian dikirim ke Riau, Jambi, Palembang, dan Jakarta. Mereka mengirim juga ke Singapura dan Malaysia. Harga sayuran tersebut relatif murah. Risiko terbesar petani sayur adalah ketika hasil panen mereka cepat layu dan busuk. Hal ini menuntut mereka untuk gerak cepat dalam proses pengiriman, sehingga sayuran dapat sampai ke tangan konsumen dengan cepat. Tidak jarang mereka harus menanggung kerugian karena sayur yang terlanjur rusak harus dikirim balik dari Singapura dan Malaysia. “Kami merasa rugi, kerja keras dan pengorbanan kami sia-sia. Situasi dan keadaan demikian ini sudah lama mendera kami, dan kami hanya pasrah.” keluh mereka. Pemerintah setempat kurang bahkan tidak mengatur dan memperbaiki sistem ini, sehingga terjadi manipulasi bahan dan harga pupuk, pestisida, dan bibit di antara para penjual. Para petani ini mengaku pernah mendapat pendampingan bertani secara organik dari Bruder Budi Mulia, namun tidak lama kemudian mereka kembali menggunakan pupuk dan pestisida kimia lagi.

Pengalaman petani sayur di Kabanjahe ini membuat kami di JPIC bertanya-tanya, mengapa tanah yang luas dan subur ini tidak menjanjikan ekonomi yang baik bagi mereka? Mengapa mereka tidak memilih bertani secara organik? Kondisi tanahnya sangat subur karena dekat gunung Sinabung, tetapi pilihannya menggunakan bahan kimia (pupuk dan pestisida) dan bibit unggul. Pilihan tersebut telah membuat mereka sangat tergantung pada bahan kimia, pestisida, dan bibit unggul. Sistem pertanian tersebut telah menjerat mereka, sehingga hanya menuai susah dan derita. 

Bila dirunut lebih jauh, sistem pertanian itu merupakan warisan dari Orde Baru, yakni “revolusi hijau.” Gerakan revolusi hijau itu mengedepankan program Panca Usaha Tani yang terdiri dari, (1) penggunaan bibit unggul, (2) pemupukan, (3) pemberantas hama dan penyakit (pestisida), (4) irigasi, dan (5) perbaikan dan pemeliharaan bercocok tanam. Memang diakui bahwa gerakan revolusi hijau ini mencapai keberhasilan swasembada pangan di tahun 1984. Pada tahun itu, Indonesia pernah membantu beras untuk negara-negara yang berkekurangan baik di wilayah Asia maupun Afrika. Kejayaan itu tidak berkelanjutan, justru gerakan tersebut berdampak buruk yang mendatangkan malapetaka bagi petani dan kerusakan lingkungan. 

Gerakan revolusi hijau tidak selalu menjadi simbol keberhasilan usaha tani. Gerakan ini tidak dikaji dan dipikirkan secara matang akan kelanjutan dari usaha tani, sehingga merugikan para petani dan lingkungan hidup. Petani didorong menggunakan bibit unggul padahal ada bibit lokal yang jauh lebih unggul. Karena tergiur akan hasil yang cepat dan banyak, petani akhirnya meninggalkan dan bahkan menghilangkan bibit. Para petani mulanya dibagi-dijatah pupuk dan pestisida kimia secara gratis. Lama kelamaan pupuk dan pestisida tersebut dijual dengan harga yang mahal, sehingga petani tidak mampu membelinya. Karena dimanjakan dengan bahan kimia, petani tidak ada pilihan lain, sementara bahan kimia tersebut menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup, terhadap tanah, air, udara, tanaman, hewan, dan manusia.

Kita tahu bahwa penggunaan bahan kimia (pestisida) dapat merusak ekosistem lingkungan hidup. Tanah yang kerap kali diberi pupuk dan pestisida kimia menjadi keras, padat, terbelah, dan akhirnya tandus (hilang humus tanah) atau dengan istilah pemiskinan tanah menuju proses penggurunan. Binatang seperti cacing, semut, bakteri, belut, siput yang menggemburkan tanah tidak mampu bertahan hidup. Bahkan bukan hanya binatang yang ada di dalam tanah, di atas tanah pun menjauh atau mati juga. Bahan kimia yang meresap ke dalam tanah ketika banjir mengalir ke sungai akan mencemari air, sehingga tidak layak lagi dikonsumsi oleh tanaman, hewan, dan manusia. Aroma-aroma khas bahan kimia (menjadi racun) membuat polusi udara. Segala macam sayur dan buah hasil bahan kimia tidak sehat dikonsumsi oleh manusia. Kita semua tahu akan dampak itu, tetapi belum mengubah cara bertani yang menciptakan mata rantai kehidupan yang saling menunjang kehidupan. Pilihan menggunaan bahan kimia dalam bertani telah memutuskan mata rantai kehidupan hayati.

Pilihan bertani secara kimia telah merusak dan menyakiti ibu bumi rumah kita bersama. Tanah kian hari semakin memprihatinkan karena pemiskinan tanah, hilangnya kesuburan dan dalam proses penggurunan. Air dan udara sudah dan sedang tercemar oleh bahan kimia. Tanaman dan tumbuhan lokal pun sudah langka dan hilang. Binatang-binatang liar kian hari kian langka kita jumpai. Mungkin suatu hari kita hanya akan tahu nama binatang-binatang itu, tanpa pernah tahu sosoknya karena punah oleh ulah manusia. Bahkan kita manusia abad ini menderita penyakit yang aneh-aneh. Dan kita digemparkan dengan sebuah virus yang mematikan, virus corona disease (Covid-19). Semua orang cemas dan takut akhirnya hanya diam di rumah (stay at home). Ternyata tidak hanya ibu bumi, tetapi kita semua ikut merintih dan menangis. Apakah kita masih memilih menggunakan bahan kimia ataukah mencari alternatif lain? Pengalaman pandemi Covid-19 ini mendorong kami memilih alternatif lain. Kami JPIC Bruder MTB memilih pertanian terpadu dan berkelanjutan dengan mengedepankan sistem organik yang menciptakan kehidupan satu dengan yang lain.

Pertanian Terpadu dan Berkelanjutan

Konsep pertanian terpadu dan berkelanjutan yang kami terapkan sederhana saja. Konsepnya bahwa usaha tani dengan memadukan praktik pertanian (tanaman), peternakkan (hewan), dan perikanan (ikan) dalam suatu sistem sedemikian rupa, sehingga ada kesinambungan (kelanjutan) antara produksi dan pemanfaatan sumber daya alam. Perpaduan antara pertanian, peternakan, dan perikanan itu sangat diwarnai oleh unsur daur ulang organik. Dan ini sifatnya berkelanjutan, sehingga tidak terputus-berhenti dalam pemanfaatan bahan organik yang dihasilkan oleh sistem usaha tani tersebut. Mata rantai yang dibangun adalah tanaman yang tidak layak dikonsumsi manusia akan menjadi pakan hewan dan ikan. Kotoran hewan dan ikan akan menjadi bahan pupuk organik bagi tanaman. Mata rantai ini menjadi suatu simbiosis yang meningkatkan mutualisme di lahan tersebut, sehingga dapat menghemat biaya dan sumber daya alam. 

Pertanian yang mengandalkan sistem daur ulang organik secara terpadu dan berkelanjutan tidak menyisakan hasil-hasil pertanian sebagai limbah. Limbah digunakan sebagai pupuk untuk menjaga kesuburan dan konservasi tanah. Hasil pertanian akan mendukung kelangsungan hidup ternak dan ikan. Sebaliknya, kotoran ternak dan ikan menjadi pupuk untuk menyuburkan tanaman. Maka pertanian terpadu dan berkelanjutan menekankan hal penting dalam pemeliharaan kesuburan tanah, peningkatan produktivitas dan keuntungan bagi petani. Dengan cara demikian, petani diajak untuk membangun ketahanan pangan bagi dirinya dan sesama. 

Sistem usaha tani yang terpadu dan berkelanjutan ini bukanlah hal baru. Zaman dulu nenek moyang kita pun telah menerapkan usaha tani terpadu dan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Dalam bercocok tanam, mereka menyertakan pranata adat budaya yang sangat menonjolkan kearifan lingkungan. Mereka juga sangat mempertimbangkan aspek konservasi sumber alam, seperti alat-alat kerja yang tradisional, membakar serasah, menggunakan pupuk kandang, membuat guludan sebagai media tanam demi mempertahankan kesuburan tanah dan produktivitasnya.

Di Pondok San Damiano Sepakat 2, Pontianak, Kalimantan Barat, JPIC Bruder MTB mengolah sebuah lahan percontohan pertanian terpadu dan berkelanjutan. Di lahan yang tidak terlalu luas itu kami mengelola tanaman, ternak, dan ikan. Di bagian tengah kami menyiapkan bedeng sayuran; di bagian tepi ditanami pisang, ubi, keladi, tebu; di bagian belakang ada kandang ternak (kambing, kelinci, marmut), ada pondok pembuatan pupuk organik dan dua bak mengapiti sisi kiri dan kanan untuk ikan, dan ada kolam ikan (sedang dalam proses). Selain itu, ada pohon Mahoni sebagai batas tanah, kelapa, dan buah-buahan seperti Matoa, Sirsak, Jambu, dan Pepaya. 

Di pondok San Damiano ini, kami mengajak siapa saja untuk belajar bersama melakukan Gerakan Nurani Ekologi. Gerakan ini mendorong pertanian secara organik yang pro-life, menggunakan lahan terbatas dengan hasil yang maksimal, menjaga kesuburan tanah, dan baik bagi semua makhluk ciptaan. Muara dari gerakan ini selain membangun ketahanan pangan (bergizi, sehat, bermutu tinggi), tetapi terutama pilihan untuk merawat, menjaga, dan melestarikan ibu bumi rumah kita bersama. ##

*Br. Gerardus Weruin, MTB adalah koordinator gerakan JPIC-Bruder MTB. Saat ini ia tengah menekuni bidang literasi ekologi sembari mengelola Pondok San Damiano sebagai pilot-project pertanian terpadu berkelanjutan di Komplek Biara MTB Gubbio, Sepakat 2, Pontianak, Kalimantan Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares