Religi Dayak dan Ketahanan Pangan

Br Yunus, MTB dan Br John de Deo, MTB saat panen pagi ladang di Komplek Bori Kuala Dua, Kembayan, Sanggau, Kalbar.


Manusia Dayak mengakui dan menjunjung tinggi ritual adat. Pengakuan itu tercermin dalam relasinya dengan Tuhan, alam semesta, alam leluhur, dan sesama manusia. Mereka melalakukan ritual adat untuk membangun relasi yang harmoni satu dengan yang lain. 

Hal ini membuktikan bahwa dengan melakukan ritual adat kehidupan bersama diatur dan ditata kembali secara harmoni. Itulah manusia religi Dayak yang terus dijaga dan dihidupi. 

Tatanan harmoni itu kadang-kadang dicemari dan dirusaki oleh perilaku manusia. Oknum-oknum pencemar dan perusak tatanan tersebut dalam religi Dayak diyakini mendatangkan amarah alam, leluhur dan Tuhan sendiri. Kemarahan itu mendatangkan malapetaka bagi manusia. Ada bencana alam, penyakit, dan sebagainya membuat manusia sengsara dan menderita. Untuk pemulihan dan pendamaian, suku Dayak membuat ritual adat. Selain pemulihan dan pendamaian, ritual itu sendiri men-sakral-kan tanah air sebagai rumah bersama segala ciptaan, sehingga dijauhkan dari segala petaka oleh Tuhan.

Tanah, air (sungai), hutan disakralkan agar dijaga, dirawat, dan dikelola untuk kelangsungan hidup bersama. Tanah, air, hutan itu diyakini suku Dayak sebagai berkat dan pemberian dari Tuhan, sehingga dikelolah secara baik penuh rasa tanggung jawab bukan mengeksploitasi. Bila tanah, air, hutan dicaplok oleh investor, kita kehilangan sumber pangan. Ketahanan pangan kita terancam. Tanah, air, hutan bukanlah lagi berkat melainkan kutukan. Ritual adat dapat berlangsung bila masih ada tanah, air, dan hutan. Keberlangsungan ritual dan pangan membutuhkan media tanah dan air. Kehilangan tanah, air, hutan maka tercabut pula sarana-media ritual kehidupan budaya dan ketahanan pangan kita.

Itulah gagasan dan refleksi Bruder Yohanes de Deo, MTB mewakili JPIC Bruder MTB dalam memotivasi masyarakat adat Kecamatan Subah Kabupaten Sambas. Pertemuan ini difasilitasi oleh Aliansi Masyarakat Adat Nasional (AMAN) dan Walhi, bertempat di Wisma Retret Sumping, Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang pada tanggal 7-8 Juli 2020. Lokakarya ini mendiskusikan hal kebijakan perkebunan sawit berskala besar di Kalimantan Barat yang berdampak pada ketidakadilan terhadap warga masyarakat dan ekologi. Pertemuan diharapkan dapat membangun pemahaman, kesadaran dan jejaring di tingkat akar rumput dalam mempertahankan hak adat, wilayah adat, dan lingkungan. Sebagai aksi ditegaskan bahwa masyarakat Kecamatan Subah tidak lagi menjual tanah ibu pertiwi-tanah leluhur mereka. 

*Johanes de Deo, MTB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares