Upaya Kembali ke “Rumah Kita Bersama”

Br. Gerardus, MTB

Sebagai “rumah kita bersama”, bumi dikatakan sedang sakit parah. Rumah kita bersama ini dikatakan sedang rusak dan gerah akibat pemanasan global. Rumah kita bersama ini juga sedang dilanda krisis. Demikian beberapa istilah yang sedang hangat dibicarakan sebagai isu lingkungan hidup dewasa ini. Semuanya itu diakibatkan oleh ulah kita (manusia) yang berkuasa, serakah, kurang berbelas kasih, menghormati, dan menghargai bumi. Dari cara berpikir, bersikap, dan bertindak manusia lebih “meng-hak-i” sebagai milik daripada meminjam sebagai hak “pakai” untuk memenuhi kebutuhan hidup (William Chang, 1989).

Berbicara tentang “rumah kita bersama” berarti kita membicarakan eksistensi pribadi manusia. Dalam kitab Kejadian (2:6-7) dikatakan bahwa sesungguhnya manusia itu terdiri dari tubuh (tanah), darah (air), dan nafas-udara (roh). Tanah, air, dan udara tersebut sedang mengalami krisis, rusak, dan sakit parah. Pengalaman ini pun sudah dialami oleh Fransiskus Assisi. Dalam suatu penglihatan, ketika sedang berdoa di depan salib San Damiano terdengar suara, “Fransiskus perbaikilah rumah-Ku yang nyaris roboh”. Setelah mendengarkan suara itu, Fransiskus mulai bergerak memperbaiki gereja yang rusak itu seorang diri, kemudian orang lain ikut membantunya.

Fransiskus mulai mengumpulkan batu, pasir, semen dan memperbaiki gereja yang rusak itu. Ternyata, Fransiskus gagal paham atas maksud Yesus tentang rumah-Ku yang nyaris roboh. Rumah-Ku yang dimaksudkan Yesus (suara dari Salib San Damiano) bukan gedung gereja melainkan umat manusia yang semakin bobrok dalam berperilaku hidup. Akhirnya, Fransiskus memulai dengan gerakan pertobatan hidup. Pertobatan memberi dampak pada cara pandang-berpikir, perilaku-sikap, dan bertindak atas dasar kasih-persuadaraan dengan saling menghormati dan menghargai satu sama lain dari Pencipta yang satu.

Gerakan pertobatan dan teladan Fransiskus Assisi tersebut menjadi spirit, dorongan, dan inspirasi bagi JPIC-Bruder MTB dalam memperbaiki rumah-Ku yang nyaris roboh. Memang, lebih mudah kita memperbaiki bumi yang sudah tercemar, rusak, dan sakit daripada memperbaiki cara pandang-berpikir, sikap, dan tindakan manusia. Dalam upaya kembali ke rumah kita bersama atau memperbaiki rumah-Ku, tidak jarang kita lebih banyak berbicara (tentang krisis, kerusakan, dan sakit parah) daripada perbuatan kongkret untuk mencegah atau memulihkannya. Santo Antonius mengatakan actions speak louder than works, let your words teach and your actions speak. Perbuatan bersuara lebih keras daripada kata-kata, hendaknya kata-katamu mengajar dan perbuatanmu berbicara.

Upaya gerakan pertobatan ekologis yang hendak dilakukan JPIC-Bruder MTB untuk kembali ke rumah kita bersama berkiblat pada pertobatan jiwa Fransiskus. Meminjam istilah dari Bruder Petrus, MTB (dalam PRATIKAMI edisi XL tahun 2019) yakni berciri PADUA. Artinya, upaya pencegahan-pemulihan rumah kita bersama itu dimulai dari PERSON (pribadi) membangun suatu pemahaman dan kesadaran dalam cara pandang, sikap dan tindakan; dilakukan secara ACTIVE (aktif) dengan riang gembira-sukacita; dilandasi oleh sikap penuh DEDICATION (dedikasi) ada pengorbanan lahir dan batin; demi keutuhan dan perdamaian UNIVERSE-SAL (jagat raya-semesta); dan kita melakukan secara ASSOCIATION (persekutuan-persaudaraan). Kiblat ini sesuai dengan amanat dalam Gaudium et Spes.

Upaya gerakan pertobatan ekologis JPIC-Bruder MTB sederhana saja seperti terumus dalam strateginya, yakni P2T (Pemahaman, Penyadaran, dan Tindakan) –buka mata untuk melihat, buka hati untuk merasakan, dan buka tangan untuk bergerak. Secara kongkret di Sepakat II, Pontianak telah dibuka Pondok San Damiano sebagai pilot projek kebun organik. Di pondok ini menjadi tempat belajar mengolah sampah menjadi pupuk organik dan bercocok tanam sayuran organik baik untuk orang muda (generasi millenial) maupun orang dewasa. Hal ini sesuai dengan salah satu program JPIC-Bruder MTB, yakni gerakan bersih dan hijau.

Upaya lainnya, di Bori Tajau Obih Edueap desa Kuala Dua, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat JPIC-Bruder MTB memberi perhatian pada bidang budaya khususnya Budaya Dayak setempat. Dengan program konservasi dan revitalisasi budaya, JPIC-Bruder MTB berupaya merancang kegiatan untuk menggali kearifan lokal untuk merawat dan menjaga tanah, air, udara sesuai dengan kearifal local adat setempat. Kegiatan seperti perayaan hari lingkungan hidup, hari air, hari internasional masyarakat adat sedunia (HIMAS), dan lain-lainnya itu semua bertujuan untuk memberi pemahaman, penyadaran, dan tindakan kongkret atas persoalan-persoalan budaya setempat.

Upaya kembali ke Rumah Kita Bersama merupakan jalan panjang dan pekerjaan rumah (PR) bagi setiap insan. Dalam ajakan Paus Fransiskus, mari kita melakukan pertobatan ekologis. Artinya ada kesadaran baru akan kosmologi atas nilai-nilai transendental dan metafisika, sehingga mencegah tindakan kita melukai alam. JPIC- Bruder MTB pun mengajak kita kembali pada kearifan lokal bahwa identitas budaya lokal kita masing-masing sesuai dengan warisan leluhur yang memandang alam ini adalah sacral yang harus dihormati dan dijaga. Daripadanyalah kita bergantung hidup. Untuk itu, kita memulai dari diri sendiri dengan usaha kecil-kecil seperti Santo Fransiskus Assisi mulai memperbaiki gereja San Damiano sendirian. Hal ini karena gempuran ilmu pengetahuan dan teknologi seakan memiliki determinisme atas alam ini.

Yazid, Anggina Rafitri, dan Aysa Aurealya Maharani menjadi pioner kaum muda dalam menjaga kearifan lokal ekologi. Siswa SMAN 2 Palangkaraya, Kalimantan Tengah tersebut menemukan kayu Bajakah sebagai obat kanker dan menjuarai lomba karya ilmiah World Invention Creativity Olympic (WICO) di Soul, Korea Selatan. Namun demikian mereka menolak popular dan kaya raya. Mereka tidak mau membongkar rahasia hutan Kalimantan. “Kami tidak ingin penemuan ini digunakan untuk mengeksploitasi hutan kami. Kami ingin hutan Kalimantan tetap lestari sampai beratus-ratus tahun”. Semoga ungkapan kaum muda ini mendorong cara berpikir, bersikap, dan bertindak kita masing-masing kembali ke Rumah Kita Bersama. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares