Persaudaraan di Balik Tembok Klausura
@illustration
Oleh Sr. Ayasintha, OSC Cap
.
Kala Itu
Kala itu …
Mengingat pandangan pertamaku pada-Mu
Tiada lagi ku inginkan
Selain bersama-Mu
Walau aku belum tahu ke mana …
Kala itu
Ingin ku tepis yang menggetarkan kalbu ini
Tentang Engkau
Namun semakin ku tepis
Semakin Engkau menghantui hari-hariku
Kala itu
Segala hambatan
Segala rintangan
Segala badai
Segala gelombang
Mampu ku terjang
Kala itu
Aku tak peduli apa kata orang, keluarga, teman, dan sahabat
Walau aku belum yakin dan pasti
Aku hanya pasrah
Pasrah mengikuti apa kata hatiku
Kakiku melangkah … dan terus melangkah
Akhirnya ku temukan labuhan hatiku
Biara Santa Klara Sarikan.
*
Biara suster Santa Klara, Sarikan ada di lembah bukit Tunggal. Bukit ini menawarkan panoramanya tersendiri, apalagi bagi pencipta alam dan kesunyiaan. Kesan pertama kala memasuki areal komplek biara Santa Klara Sarikan, para tamu merasakan auranya yang adem, tenang, hening, sunyi dari hiruk pikuk dunia dan pemandangan yang indah. Kesan tersebut membawa para tamu merasa kesegaran dan ketenangan batin untuk lebih dekat dengan alam dan Tuhan. Itulah kesan para tamu yang berkunjung ke biara Santa Klara Sarikan.
Para suster penghuni biara datang dari berbagai keluarga, suku dan budaya. Ada suster dari Dayak dengan beberapa sub sukunya, Batak, Flores, Jawa, Tinghoa, dan Nias. Dengan latar belakang yang berbeda itu, kami mempunyai selera, hobi, watak, karakter, yang berbeda bahkan bertolak belakang. Namun demikian, kami mempunyai cita-cita yang sama, mau menyerahkan diri kepada Tuhan lewat persembahan doa-doa untuk Gereja, umat manusia, dan dunia (lingkungan hidup) dalam Ordo Santa Clara Capusines (OSC Cap).
Dengan segala keberagaman dan keunikan, setiap pribadi dalam keseharian tentu ada gesekan dan benturan di antara kami. Jika disadari, ada keindahan ibarat pelangi yang dihiasi dan didandani Allah berwarna-warni di langit yang biru. Dalam jatuh bangun, setiap hari kami saling menyemangati dan melengkapi satu dengan yang lain. Karena untuk itulah kami dipanggil menjadi Saudari bagi yang lain dan menampakkan Citra Allah di tengah dunia.
Dalam Ordo Klaris Capusines kami disatukan untuk membangun persaudaraan yang hangat dan sejati. Doa bersama yang menjadi ciri utama hidup kami menjadi harapan dan tetap percaya bahwa Allah hadir di tengah-tengah kami. Juga dalam bekerja tangan dan rekreasi menjadi kesempatan bagi kami untuk saling membantu, bersenda gurau, berbagi cerita suka dan duka sehingga dapat menghilangkan capek dan penat. Dalam hal membangun persaudaraan, kami sangat terbantu dengan materi rekoleksi yang dibawakan oleh Br. Gerardus Weruin, MTB. Bruder menekankan bahwa untuk menjadi pemimpin dan membangun persaudaraan yang baik pertama-tama kita mulai dari diri kita sendiri. Menyadari bahwa diri kita adalah Citra Allah, sehingga setiap orang harus memberi pengaruh yang baik, melibatkan setiap orang untuk saling mengisi-melengkapi, kerja sama atau berkolaborasi dan komunikasi yang baik. Cara pandang kita terhadap setiap pribadi harus secara positif, sehingga sama-sama berkembang bukan sebaliknya.
Menurut Bruder setiap hari kita mesti menjawab pertanyaan Who am I? Kesadaran ini mendorong kita dapat mengaktulisasikan diri secara autentik, tidak lagi berpura-pura, topeng, atau semu sesuai dengan harapan orang lain. Tere Liye mengatakan, “Jadilah diri sendiri. Kita tidak usah sempurna sekali, cukup terus berusaha memperbaiki diri itu sudah keren dan tidak perlu pusing dengan penilaian orang lain tentang kita.” Tidak mudah kita mengakrabi diri sendiri, apalagi di era digital sibuk telepon-chatting dengan orang yang jauh di luar sana dan asing dengan diri sendiri. Juga kita sibuk bekerja, sehingga kurang-tidak ada lagi waktu untuk diri sendiri. Itulah tantangan kita dalam usaha mengenal, menerima, dan memahami diri sendiri sebagai Citra Allah. Semua berjalan dan berlalu begitu saja sesuai dengan ritme harian kita. Kita harus berani dan tegas mengambil waktu untuk diri sendiri dan dengan setia merenung-merefleksi diri agar lebih mengenal dan memahami diri sebagai Citra Allah (Tobit 4:16-19; Roma 12:9-21; Mat. 7:1-2; 7:3-5; dan Mat. 5:48). Sebagai Citra Allah kita tidak hanya makhluk personal-pribadi, tetapi sosial. Kita membutuhkan sesama untuk tumbuh dan berkembang. John C. Maxwell mengatakan berilah pengaruh yang baik kepada setiap orang sehingga mereka menjadi pemimpin dan Saudara yang baik bagi sesama dan lingkungan hidup yang sedang menderita sakit ini. Semoga. ⚫
