Proyek Yesus
Sebuah Refleksi yang Disajikan oleh JPIC Bruder MTB
Keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan merupakan sebuah proyek dari Yesus dalam membangun Kerajaan Allah. Proyek Yesus ini perlu digarap secara bersama-sama. Kita bersama-sama dan di dalam Yesus bergerak mewujudkan Kerajaan Allah. Proyek tersebut membutuhkan personil yang mempunyai peran dan tugasnya masing-masing secara jelas. Hal ini perlu didukung dengan pedoman, program, dan sasaran kerja yang mau dicapai, manajemen yang tepat, anggaran biaya yang diperlukan, tempat-lokasi, dan berfokus pada masalah atau persoalan urgen yang dihadapi sekarang, yakni pandemi Covid-19 dan krisis lingkungan hidup.
Proyek Yesus ini tidak dilakukan secara sendiri-sendiri (jalan sendiri-sendiri). Kita dipanggil secara persekutuan untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Memang sebagai persekutuan, tetapi kita tetap menghargai iman, bakat, talenta, gagasan, ide, strategi kerja yang dimiliki setiap pribadi. Perbedaan yang dimiliki setiap pribadi bukan menjadi jarak bahkan jurang, sehingga jauh dari persekutuan. Justru dinamika perbedaan tersebut memberikan warna khas persekutuan bila sang leader memanajemennya dengan baik. Adalah tugas sang leader untuk merangkul, memotivasi, dan menata-kelola setiap pribadi yang berbeda tersebut, sehingga mampu berkerja sama, berkolaborasi dari setiap unit. Secara periodik kita berkumpul membuat planning, evaluating, dan reflecting (pertemuan berkala: rapat kerja membuat program, langkah strategi praktis, mempertimbangkan sumber daya manusia yang ada dengan berat ringannya tugas dan tanggung jawab, mengevaluasi pelaksanaan program dengan segala kelebihan dan kekurangan, melakukan refleksi bersama atas pengalaman tersebut, memetakan persoalan dan solusi atau langkah strategis yang tepat). Hal tersebut sangat membantu pribadi-pribadi untuk membangun persekutuan dalam mewujudnyatakan proyek Yesus. Lebih dari itu, memudahkan sang leader dalam mengontrol, mengawasi dan mengukur tingkat kemajuan dan perkembangan dalam persekutuan.
Berkaitan dengan solusi atas pandemi Covid-19 dan krisis lingkungan hidup ini, kita tidak boleh merasa pesimis atas kekurangan tenaga dan personil yang tidak terampil. Tenaga kita tidak akan pernah tercukupi apalagi mengharapkan personil yang terampil. Tidak! Yesus hanya membutuhkan dua belas orang murid-Nya (rasul) untuk mewartakan Kerajaan Allah sampai ke seluruh dunia. Kenyataan ini diyakini bahwa dalam kekurangan itu Bapa dan Yesus turut bekerja sampai sekarang (Yohanes 5:17), mereka tidak membiarkan kita bekerja sendirian. Dalam menggolkan proyek Yesus, sang leader perlu melibatkan setiap pribadi, memberikan tanggung jawab, mendorong, melatih dan membekali keterampilannya serta membiasakan terus belajar mengikuti perkembangan dan perubahan zaman. Sebagai Bruder Pendidik yang mengedepankan “mendidik tanpa batas” paling tidak kita selalu mengusahakan pemekaran dan peningkatan diri secara inovatif dan kreatif dalam memberi solusi atas pandemi Covid-19 dan krisis lingkungan hidup. Tanpa belajar bersama, kerja sama, kolaborasi, dan melibatkan setiap pribadi, proyek Yesus tidak akan pernah tergarap dan hanya diam-tenang di pembaringan menunggu goncangan air di kolam (mukjizat) atas pandemi Covid-19 dan krisis lingkungan hidup ini.
Persoalan krisis lingkungan hidup seperti pemanasan global, iklim yang ekstrem, kekurangan air bersih, bahan bakar fosil, sampah, kelaparan, pengangguran, kemiskinan, kekerasan, dan kejahatan sangat mengharapkan kita dapat berbuat sesuatu. Sia-sia kita mengharapkan lingkungan hidup memulihkan dirinya sendiri. Tindakan untuk menyelamatkan dan memulihkan Ibu Bumi rumah kita bersama sudah diserukan oleh Paus Fransiskus dalam Ensikliknya, Laudato Si pada tahun 2015. Namun sebagian besar orang belum menyadari dan bergerak, sehingga Paus kembali lagi menekankan dan mendorong akan urgennya gerakan Laudato Si Action Platform. Paus berharap kita melakukan pertobatan ekologis mulai diri sendiri, komunitas-keluarga, pendidikan (di sekolah-asrama), paroki, keuskupan dan masyarakat. Kita semua melakukan gerakan penyelamatan dan pemulihan Ibu Bumi yang semakin hari sakitnya semakin parah. Manusia terus bertambah sedangkan lingkungan tidak bahkan semakin berkurang dan punah karena egonya manusia. Sesungguhnya, alam semesta tidak membutuhkan manusia, tetapi manusialah yang membutuhkannya untuk hidup. Bagaimana dengan kita dan apa gerakan konkret kita atas Covid-19 dan krisis lingkungan hidup ini? Mari kita bergerak bersama-sama sekecil apa pun yang kita lakukan dapat menyembuhkan dan memulihkan sakit-penderitaan ibu bumi. ⚫ (JPIC-MTB)

