Dampak Pembelajaran Online Selama Pandemi Covid-19

Oleh: Gordianus G, S. Ag

Pandemi Covid-19 membawa ancaman, penderitaan, keterlantaran, dan pemiskinan bagi banyak orang baik di kota maupun desa. Banyak orang harus bersusah payah bertahan hidup. Hampir semua bidang kehidupan kita mengalami kesulitan. Orang sulit bekerja, mendapat pendidikan-pembelajaran di sekolah, bekerja di kantor, berbelanja kebutuhan di pasar, bepergian antarkota, berobat di rumah sakit karena takut akan Covid-19 yang membahayakan dan mematikan. Covid-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga memengaruhi kondisi ekonomi, kehidupan sosial masyarakat, dan terlebih pendidikan bagi anak-anak. Demi aman, orang hanya melakukan segala aktivitas di rumuh saja.

Hadirnya Covid-19 ini, pemerintah kita mulai menerapkan aturan-aturan untuk mencegahnya seperti menjalankan protokol kesehatan (mengenakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak), menghindari kerumunan, membatasi mobilitas, dan wajib vaksin. Selain itu juga, pemerintah mendorong masyarakat agar dalam beraktivitas berkaitan dengan pekerjaan dapat menggunakan teknologi digital. Lembaga pendidikan pun ikut menggunakan teknologi digital dalam pembelajaran. Pendidik-guru dan peserta didik melaksanakan pembelajaran dalam jaringan (daring) secara online. Dengan internet guru dapat menyampaikan materi pembelajaran, tugas-tugas, dan evaluasi kepada peserta didik. Semua kegiatan pembelajaran tergantung pada internet dan bersandar pada google karena dapat menolong bila ada kesulitan, semua dapat ditanyakan, dicari dalam google.

Penggunaan teknologi digital memerlukan alat pendukung seperti laptop, handphone, kuota/wifi, listrik, dan aplikasi penunjangnya. Berkaitan dengan pengadaan alat-saran tersebut terkendala dengan ekonomi orang tua siswa yang mampu dan tidak mampu. Dalam hal ini pemerintah masih memberi bantuan. Namun kondisi perkotaan dan pedesaan mempuyai kesulitan tersendiri. Dengan demikian, pendidik harus bijak dalam menyikapi situasi dan kondisi tersebut. Belajar dan terus belajar agar kita bijak dalam memanfaatkan teknologi digital dalam pembelajaran. Karena Covid-19 ini telah mengubah kebiasaan pembelajaran yang konvensional menjadi serba virtual atau dari offline ke online.

Pendidikan-pembelajaran baik secara konvensional atau virtual-digital dimaksudkan agar membantu proses pemekaran diri orang muda. Esensi dari pendidikan itu proses pemanusiaan atau memanusiakan manusia muda agar menjadi manusiawi. Walaupun baru dua tahun berlangsung Covid-19, apakah pendidikan-pembelajaran secara virtual mengarah pada esensi itu? Pendidikan-pembelajaran dengan menggunakan teknologi digital tentu berdampak baik positif maupun negatif pada diri peserta didik.

Dampak positif dari pembelajaran secara virtual-digital, yaitu peserta didik sangat mudah mendapat ilmu pengetahuan, informasi secara cepat. Dengan mudah dan cepat peserta didik menyelesaikan persoalan atau materi dalam tema pembahasan yang diberikan guru. Selain itu, teknologi digital membantu peserta didik mengembangkan kreativitasnya, terampil menggunakan aplikasi untuk belajar. Mereka semakin melek dengan hasil kemajuan teknologi. 

Pembelajaran secara online dengan menggunakan internet, dunia akan menjadi โ€˜sempitโ€™. Dengan koneksi internet sumber belajar, laboratorium maya, perpustakaan, buku sekolah elektronik, karya sastra dan bahasa, peta budaya, kelas digital, bank soal, dan sebagainya sudah tersedia secara online. Peserta didik tinggal klik semuanya dibutuhkan akan muncul di hadapannya. Mereka ditenangkan dengan duduk manis menghidupkan laptop, HP tersambung ke internet semua dapat diakses dengan mudah.

Kemudahan yang didapat secara online tidak selalu positif, ada juga dampak negatif dari pembelajaran menggunakan teknologi digital. Walaupun secara ilmu pengetahuan dan informasi banyak diperoleh siswa, tetapi secara afeksi mereka mengalami kekeringan. Persoalan afeksi dapat terpenuhi bila berinteraksi dengan sesamanya bukan dalam internalisasi bayangan-maya. Ungkapan perasaan gembira, senang, tertawa lelah, semangat, takut, keluhan, dan sebagainya tidak dapat diketahui oleh gurunya. Ada kecenderungan mereka akan merasa bosan, jenuh, malas, dan berani melawan kepada orang tua atau gurunya. Tugas-tugas diberikan guru tidak dikerjakan dengan alasan lupa, internet tidak lancar, kuota habis, dan sebagainya. Namun di balik alasan itu, mereka lebih banyak santai-santai, bahkan malas mengerjakan tugas sekolah dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain game atau selancar dalam internet dengan aplikasi yang ada.

Mencemaskan Perkembangan Pendidikan Anak

Teknologi digital selain sebagai sarana bagi peserta didik untuk mengakses ilmu pengetahuan dan informasi yang baik untuk pemekaran dirinya, tetapi juga ada yang kurang baik untuk pendidikan anak. Internet belum atau tidak memilah hal baik dan buruk dalam menyebarkan informasi. Aneka informasi bertebaran di internet. Internet menawarkan pornografi, kebencian, radikalisme, kejahatan, kekerasan, iklan dan film yang kurang mendidik. Selain itu juga, berita-berita  seperti pelecehan terhadap kaum perempuan atau seksual, kejahatan seperti pencurian, pembunuhan, korupsi, dan sebagainya yang tidak mendukung pendidikan anak. Hal ini tentu sangat mencemaskan perkembangan pendidikan anak.

Persoalan ini tentu bukan semata tanggung jawab guru dan orang tua melainkan pemerintah dan masyarakat. Kita perlu memikirkan bersama, sehingga membekali dan mendidik anak untuk masa depan yang baik dan bermoral. Terlebih pihak yang berkaitan langsung dengan bidang virtual-digital. Jangan sampai hanya mengejar keuntungan demi diri sendiri dan merugikan banyak orang. Kita perlu mempertimbangkan persoalan ini bersama terutama untuk anak-anak sebagai generasi penerus bangsa ini. Kita menggunakan teknologi digital sebagai terobosan dalam pendidikan, tetapi juga harus dipertimbangkan dampak negatif dari pembelajaran virtual ini. Semoga. ***

Balai Karangan, 2 Mei 2019

*Penulis adalah Guru SDN 22 Paus Kec. Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

shares