Duc in Altum! Bertolaklah ke tempat yang dalam.

Saudara-Saudari yang dikasihi Tuhan Yesus

Bertolaklah ke tempat yang dalam (Duc in Altum) dan tebarkanlah jalanmu untuk menangkap ikan, kata Yesus kepada Simon. Jawab Simon, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”. Setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah ikan besar, sehingga jala mereka mulai koyak (Lukas 5:5-6).

Menarik bila kita menyimak dialog Yesus dan Simon tersebut. Sepintas jawaban Simon tersirat keragu-raguan dan tidak percaya. Simon merasa sia-sia (buang-buang waktu, tenaga, pikiran) karena sepanjang malam mereka telah bekerja keras. Namun karena Guru yang menyuruh, mau tidak mau-suka tidak suka, mungkin juga dengan berat hati, Simon menebarkan jala. Hasilnya, mereka mendapat sejumlah ikan besar bahkan jala mulai koyak. Mereka meminta perahu lain datang membantu dan mengisi kedua perahu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Mulanya Simon merasa berat melakukan, tetapi melihat hasil yang berlipat ganda, ia menjadi percaya.

Duc in Altum… bertolaklah ke tempat yang dalam bagi kita sekarang ini pun terasa berat. Karena kita sudah terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan yang nyaman, aman dan mapan. Ada banyak alasan seperti sibuk, sudah bekerja keras, sudah terkuras pikiran, tenaga, biaya dan sebagainya, tetapi hasilnya tidak ada perkembangan dari waktu ke waktu tetap sama bahkan semakin buruk lalu kita saling menyalahkan.

Pada sisi yang lain, kita beraktivitas-berkarya hanya sekedar melakukan, dipermukaan saja (untuk dilihat) atau juga asal-asalan saja, dangkal bahkan bersifat instan (hasil yang cepat tanpa proses). Padahal dari waktu ke waktu kita mengalami begitu cepat perubahan oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Sadar tidak sadar kita telah digiring pada gaya dan pola globalisasi yang mengaburkan identitas diri sebagai murid Yesus. Persoalan kemanusiaan dan lingkungan hidup semakin marak, seperti peperangan-perampasan, perselisihan, penindasan yang mengorbankan nyawa anak-anak dan perempuan serta perusakan lingkungan hidup, bencana alam. Perahu-perahu manusiawi kita telah menenggelamkan rasa peduli, solider, berbela rasa dan peradaban kasih. Paus Fransiskus mengkritik budaya hidup yang meminggirkan dan melenyapkan peradaban kasih, terutama rasa masa bodoh tingkat tinggi oleh banyak orang yang disebutnya sebagai globalisasi ketidakadilan. Di samping itu, hidup modern yang berfoya-foya dan lupa peduli pada sesama yang susah, menderita yang mengalami ketidakadilan dan kekerasan.

Yesus menyuruh kita bertolaklah ke tempat yang dalam (Duc in Altum). Karena Yesus tahu bahwa kita memiliki kelemahan, kekurangan dan cacat cela. Ketidaksempurnan kita tersebut tidak menjadi alasan identitas diri kabur dan hidup yang tidak bermutu. Justru kelemahan dan kekurangan itu dijadikan Yesus sebagai kekuatan dan militasi dalam tugas perutusan. Kita membiarkan diri dipimpin oleh Yesus, ada relasi personal dan percaya-yakin Tuhan turut bekerja-intervensi di dalamnya. Yesus tidak sekadar menyuruh kita Duc in Altum. Kita dapat belajar dari pengalaman nabi Yesaya yang tidak sanggup karena menghadapi kuatnya takhta kekuasaan dan kualitas kehidupan moral Israel. Lalu, ia berani menjawab inilah aku, utuslah aku! Demikian juga Paulus, sebelumnya ia hidup dalam kebencian dan amarah anti pengikut Krisuts, tetapi ia dipanggil menjadi duta cinta Allah dan saksi kasih Kristus. Dan Simon seorang nelayan yang mengaku sudah bekerja keras sepanjang malam, tetapi setelah mendapat ikan yang banyak baru sadar ia seorang yang berdosa. Simon dipilih dan diutus menjala manusia suatu transformasi diri setelah melakukan Duc in Altum.

Tidak ada kata terlambat kita melakukan Duc in Altum dan seharus demikian jika kita mau hidup ini berkualitas dan bermakna. Beranikah kita bertolak ke tempat yang lebih dalam? Tuhan menghendak hidup kita penuh makna bagi sesama dan lingkungan hidup bukan hidup yang dangkal dan hanya mengisi hari ke hari saja. Mengapa kita mempertahankan dan memeluk erat ketidaksempurnaan (kelemahan, kekurangan dan cacat cela)? Ada hal yang lebih penting lagi, sehingga Yesus menyuruh kita bertolak ke tempat yang dalam. Yesus memangil, mengutus dan memberi tanggung jawab kepada kita untuk hidup dalam persaudaraan dan persahabatan yang memerdekakan, memberdayakan dan menyelamatkan baik manusia maupun alam semesta. Perahu-perahu kita menjadi berkat dan penuh dengan warta sukacita dari hari ke hari. Tugas kita menebarkan jala bagi sesama sesuai dengan amanat Tuhan Yesus, bermodalkan keberanian dan ketegasan melawan praktik ketidakadilan dan kekerasan, hidup yang penuh dusta dan penindasan baik dalam waktu senang maupun susah tetap bersaksi. Semoga ya semoga, Tuhan memberkati… Pace e bene (*** Br. Gerardus Weruin, MTB – Minggu 9 Februari 2025).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *