Saudari-Saudara yang dikasihi Yesus Kristus

Kata “kembali” berarti balik-pulang ke tempat atau keadaan semula, atau mengulang peristiwa yang sudah terjadi sebelumnya. Ini berarti seseorang atau sesuatu yang kembali ke posisi atau kondisi awal; kita kembali ke “rumah”. Ajakan kembalilah menyadarkan bahwa kita sedang di persimpangan jalan yang menyesatkan atau di jalan buntu kehilangan arah. Orang yang kehilangan mengalami susah-derita, sengsara, kesulitan, sakit, putus asa, dan kegelapan. Ada juga yang mengalami kebingungan, tersesat, tenggelam dalam kenikmatan hidup yang fana dan tidak berarti, menyendiri, tidak ada pegangan hidup dan hilang arah hidup. Itulah gambaran situasi hidup kita dalam dosa, jauh dengan Allah Bapa, sehingga kita diajak segera kembali ke rumah.

Pada Minggu Prapaskah IV (Laetare – bersukacita), kita diajak merenungkan perumpamaan tentang Anak yang Hilang (Luk. 15:11-32). Yesus mengisahkan perumpamaan ini sebagai tanggapan atas keluhan orang Farisi dan ahli Taurat yang tidak suka melihatNya makan bersama orang berdosa. Dalam kisah tersebut, kita tahu bahwa yang hilang adalah anak bungsu. Karena ia meminta warisan pada orang tuanya yang masih hidup, pergi memboroskan-berfoya-foya dengan pelacur. Padahal anak sulung juga hilang karena merasa cemburu ketika si bungsu disambut oleh ayahnya, menghakimi perilaku adiknya, dan mencap adiknya dosa berat layak dihukum dan tidak pantas dipestakan. Di balik itu, Yesus secara halus mengkritik orang Farisi dan ahli Taurat bahwa mereka tidak bedanya dengan anak sulung yang tidak mau menerima dan mengampuni adiknya yang berdosa.

Menarik bahwa kisah ini memperlihatkan baik anak maupun ayahnya sama-sama boros (prodigal Son dan prodigal Father). Si bungsu memboroskan dan berfoya-foya menghabiskan harta ayahnya; anak itu Kembali ke rumah ayahnya. Sementara, ayahnya boros dalam memestakan anaknya yang Kembali. Dalam kisah itu Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai figur Bapa yang berbelas kasih, menerima orang berdosa dengan penuh sukacita, tanpa mempersoalkan dosa yang dilakukan dan memberi dukungan untuk berubah menjadi baik. Sifat yang perlu dipelajari dan diteladani dari figur Bapa, yaitu panjang sabar, penyayang dan pengasih serta berlimpah kasih dan kesetiaan-Nya. Bapa mau menerima dan memaafkan-mengampuni tanpa syarat apapun bahkan dengan penuh sukacita (dipestakan). Itulah yang diwartakan dan dilakukan oleh Yesus.

Dalam hidup ini kita juga seperti anak yang hilang banyak melakukan kesalahan dan dosa. Seperti si bungsu baru sadar, menyesal dan bertobat ketika sedang dalam masa tersulit dan terendah. Di sisi lain, si sulung yang merasa benar, tidak bersalah, taat dan setia, sehingga tidak mau menerima dan memaafkan-mengampuni adiknya. Si sulung berkeras hati-kepala, membanggakan diri, sombong dan angkuh. Walaupun kita memiliki dua tipe itu sebagai orang berdosa, tetapi ketika kita Kembali Bapa segera menerima dengan penuh sukacita. Allah Bapa selalu memberi kesempatan yang kedua, ketiga, dan tanpa batas kepada kita untuk segera Kembali kepada-Nya.  Kata filsuf dan teolog Denmark, Soren Kierkegaard, “Jangan pernah berhenti mengasihi seseorang, dan jangan pernah putus asa untuknya, karena anak yang hilang telah jatuh paling rendah sekalipun masih diselamatkan, musuh yang paling pahit dan dia yang pernah menjadi teman Anda dapat Kembali menjadi teman Anda; cinta yang telah menjadi dingin dapat menyala Kembali.

Paus Fransiskus ketika membuka pintu penjara Rebibbia, Roma sebagai Porta Sancta kedua setelah Basilica St. Petrus, Vatikan mengatakan saya ingin agar kita semua, baik yang di dalam penjara maupun di luar perlu membuka pintu hati dan memahami bahwa pengharapan tidak pernah mengecewakan. Rahmat tahun Yubileum memampukan kita membuka hati, lapang dada dan penuh pengharapan akan kasih Allah; meskipun kadang kita mengalami saat-saat sulit, menderita, sengsara, masa-masa suram tidak ada jalan keluar dan buntu, namun pengharapan tidaklah mengecewakan kita. Di tahun Yubileum ini sebagai Peziarah Pengharapan menjadi kesempatan untuk kita refleksikan apa yang sudah dilewati dan mimpi-mimpi masa depan. Kita membarui diri dan sadar bahwa hidup tidak sekadar rentetan kejadian, tetapi kisah perjalanan penuh pengharapan yang dilabuhkan dalam iman agar ke depan diterangi dan dikuatkan Allah. Mari kita Kembali terus berproses menjadi Peziarah Pengharapan dalam iman dan kasih. Semoga ya semoga… Tuhan memberkati. Pace e Bene (*** Br. Gerardus Weruin, MTB – Minggu, 30 Maret 2025).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *